Selasa, 06 Oktober 2009

    Rongga-Rongga Antar Batuan

    oleh: Dr. Eng. Supriyanto, M.Si
    Staf pengajar Departemen Fisika, FMIPA-UI
    Pendahuluan: rongga-rongga antar batuan

    Setelah mengetahui secara umum gambaran perjalanan air hujan pada tulisan sebelumnya, Sekarang mari kita telaah lebih dalam lagi fenomena resapan air khususnya tentang bagaimana air hujan bisa meresap ke dalam tanah. Gambar berikut ini memperlihatkan situasi bawah permukaan yang didominasi air tanah dan ditandai warna biru. Di atasnya terdapat zona atau lapisan yang didominasi ruang kosong (udara).



    Gambar berikutnya memperlihatkan bentuk mikroskopis keberadaan air tanah di dalam rongga-rongga kecil antar butiran tanah.


    Rongga-rongga kecil tersebut dinamakan pori-pori tanah. Jika rongga-rongga atau pori-pori tersebut saling berhubungan satu sama lain maka air tanah dapat bergerak di antara butir-butir batuan. Lapisan tanah seperti ini dikatakan memiliki sifat permeabel yang baik. Jadi gampangnya, lapisan permeabel adalah lapisan tanah yang didalamnya memungkinkan bagi air untuk bergerak secara leluasa, baik itu bergerak vertikal dari atas ke bawah pada saat meresap, atau bergerak secara horisontal.



    Gambar di atas memperlihatkan bentuk mikroskopis keberadaan rongga-rongga kosong diantara butiran tanah. Namun sebenarnya rongga tersebut tidak benar-benar kosong, melainkan ia berisi udara.

    Tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan dan tumbuh-tumbuhan memiliki lebih banyak rongga dan pori-pori terbuka dipermukaannya dibandingkan tanah yang sudah tertutup bangunan dan aspal jalan raya. Itulah sebabnya bila turun hujan, air hujan bisa meresap ke bawah tanah dengan mudah dan cepat. Suatu kawasan dimana air hujan mudah meresap ke bawah tanah disebut kawasan resapan air atau disebut juga kawasan konservasi air.

    Hanya rongga kosong yang bisa menampung air
    Sekarang saya ajak anda untuk mengamati lebih detil tentang suatu syarat yang harus dipenuhi agar air hujan bisa meresap ke bawah tanah. Jadi begini, air hujan yang pada mulanya jatuh di atas permukaan tanah, ia bisa meresap ke bawah tanah jika dan hanya jika lapisan tanah di bawah permukaan tanah masih menyisakan rongga-rongga dan pori-pori yang masih kosong. Sebaliknya, jika rongga-rongga dan pori-pori dibawah sana sudah terisi penuh oleh air tanah yang sebelumnya sudah ada, maka air dari permukaan tidak bisa turun ke bawah. Coba anda perhatikan gambar ini dengan seksama.



    Fokuskan perhatian anda ke kawasan dataran tinggi, apakah anda menemukan lapisan bawah tanah yang masih menyisakan rongga dan pori kosong? Ya.. jelas ada, lapisan itu ada di atas water table. Sekarang silakan anda alihkan fokus anda ke bawah sungai itu. Apakah anda melihat lapisan tanah yang berisi rongga dan pori kosong di bawah sungai? Jawabannya pasti tidak.
    Walaupun tidak digambar disini, lingkungan danau dan situ tidak berbeda sama sekali dengan sungai, yaitu di bawahnya sama-sama tidak memiliki rongga/pori kosong lagi. Lalu apa mungkin lingkungan sungai, danau dan situ mampu menyerap air ke bawah tanah?
    Silakan perhatikan gambar yang dibawah ini.


    Ia menggambarkan kondisi bawah tanah pada musim penghujan. Silakan anda bandingkan dengan gambar yang atas tadi. Anda akan temukan sedikit perbedaan saja yaitu ketebalan lapisan tanah yang berisi rongga/pori kosong semakin mengecil atau menipis. Apa maknanya? Mengapa itu bisa terjadi? Sangat jelas sekali, air hujan yang jatuh dipermukaan tanah ia akan segera turun ke bawah mengisi rongga/pori kosong sehingga ketebalan lapisan rongga/pori kosong menjadi menipis. Permukaan air di sumur-sumur penduduk akan semakin meninggi mendekati permukaan tanah.
    Sebaliknya, air hujan di lingkungan sungai mengakibatkan air sungai meluap. Tahukah anda kenapa air itu bisa meluap? Ya tentu saja karena air hujan tidak mungkin lagi meresap ke bawah tanah lantaran memang tidak ada lagi lapisan rongga/pori kosong dibawah sungai. Hal yang sama terjadi pula di kawasan danau dan situ. Dipastikan air danau dan situ akan meluap ketika turun hujan.
    Kalau mengacu pada logika dan model di atas, apa mungkin program rehabilitasi sungai dan situ-situ yang menelan dana milyaran rupiah bisa menyulap lingkungan danau, situ dan sungai menjadi mampu meresapkan air dan akhirnya bisa menanggulangi banjir secara signifikan? Imposible, kecuali ada logika yang lain yang dalam hal ini atau saat ini terus terang saya belum tahu.

    Penutup: kawasan konservasi
    Saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa keberadaan rongga kosong tersebut berikut volumenya sangat penting sekali karena ia akan menentukan efektifitas peresapan air hujan. Banyak sedikitnya air hujan yang bisa diserap tergantung dari ukuran volume efektif seluruh rongga-rongga kosong yang tersedia. Suatu kawasan yang memiliki volume rongga kosong yang sangat besar disebut kawasan resapan air atau disebut juga kawasan konservasi air. Kawasan tersebut memiliki potensi untuk meresapkan air ke bawah tanah dalam jumlah besar jika dan hanya jika rongga-rongga dan pori-pori tanah dari permukaan tanah sampai bawah tidak ditutupi oleh bangunan-bangunan, pluran semen dan aspal jalan raya yang mencirikan kawasan hunian perkotaan.
    Jadi seandainya Pemkot Depok tetap keukeuh untuk merealisasikan rencana penumbuhan kota baru di tiga kawasan konservasi air yaitu Limo, Sawangan dan Cimanggis, maka itu sama saja dengan memberikan mandat kepada banjir untuk menenggelamkan Jakarta lebih dahsyat dari banjir tahun ini.
    Comments (0)
    Air tanahApril 3, 2007 3:44 pm
    Rehabilitasi Situ untuk Penanggulangan Banjir Dipertanyakan
    oleh: Dr. Eng. Supriyanto, M.Si
    Staf pengajar Departemen Fisika, FMIPA-UI
    Pendahuluan
    Kita hidup di bumi ini tidak sendirian. Di sekeliling kita terdapat banyak makhluk yang juga punya hak untuk eksis di muka bumi. Salah satu makhluk yang sangat dekat dengan kita adalah air. Ia ditakdirkan untuk menjadi sesuatu yang sangat urgen bagi hidup dan kehidupan kita. Karenanya, sangatlah pantas bila kita mau mencermati peran dan fungsinya serta menjaga siklus peredarannya agar tetap stabil dalam harmoni yang sempurna dengan alam.
    Ketidakmengertian kita akan karakter air terutama bagaimana cara dia bergerak merembes atau meresap ke dalam tanah lewat pori-pori diantara butir-butir tanah, bisa jadi akan mengundang bencana alam yang sangat dahsyat seperti kejadian banjir di awal Februari 2007 di Jakarta. Bappenas memperkirakan potensi kerugian akibat banjir di DKI Jakarta dan sekitarnya mencapai Rp 4,1 triliun.
    Bencana itu sebenarnya dipicu oleh curah hujan yang cukup lebat selama 3 hari berturut-turut. Seharusnya, air hujan yang turun dari langit diberi jalan untuk masuk ke tanah secepatnya. Tapi apa mau dikata, di atas permukaan tanah telah berdiri banyak bangunan buatan manusia melewati batas keseimbangan. Ini berefek pada semakin mengecilnya kawasan terbuka hijau dimana air hujan bisa meresap ke tanah dengan leluasa. Sebaliknya, kawasan terbangun yang dibangun di wilayah Depok dan DKI Jakarta telah menutupi jalan-jalan air untuk meresap ke dalam tanah. Akibatnya, volume curah hujan yang pada saat itu mencapai rata-rata 235 mm tidak bisa masuk ke dalam tanah.
    Kemanakah air itu bergerak? Cuma ada dua instruksi yang dipahami oleh air secara berurutan, yaitu pertama, meresap ke dalam tanah jika memungkinkan; atau kedua, bergerak di permukaan tanah menuju ke tempat yang lebih rendah.
    Ketika berada di wilayah yang sebagian besar telah tertutup oleh bangunan, air tak punya cukup waktu dan tenaga untuk merembes ke bawah tanah, maka hanya tersisa satu pilihan baginya yaitu bergerak menuju ke tempat yang lebih rendah. Got, selokan, parit dan sungai adalah jalan-jalan utama aliran air hujan yang telah menjadi air permukaan. Namun karena jumlah dan daya tampung saluran air tadi sangat-sangat terbatas, apalagi jika harus berdesakan dengan sampah-sampah yang berakibat pada pendangkalan dan sumbatan pada saluran, maka dengan terpaksa air harus mengantri mengalir dan menggenangi bangunan-bangunan buatan manusia atau tumpah ruah memenuhi jalan-jalan raya. Kita menyebut fenomena ini dengan istilah banjir. Hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.
    Ketika terjadi banjir, genangan air hanya bisa berdiam atau bergerak perlahan selama beberapa jam sampai beberapa hari hingga mendapat giliran melewati sungai. Disisi lain, danau maupun situ-situ yang dikira sebagian orang bisa menampung air hujan atau malah ada yang mengira bisa meresapkan air ke bawah tanah, ternyata sangat-sangat kewalahan menampung air bah. Bukankah pada hari-hari biasa ketika tidak hujan situ-situ itu tidak pernah meresapkan air ke bawah tanah sampai habis? Maka apalagi saat terjadi hujan lebat. Dan memang sebagian besar situ-situ yang tersebar di wilayah Bogor dan Depok tidak akan mampu menahan atau membendung limpahan air hujan yang jatuh di wilayah Bogor dan Depok.
    Jadi air hujan tak punya pilihan lagi. Dia terpaksa harus mengalir ke dataran yang lebih rendah menuju Jakarta. Dan terjadilah banjir besar sebagaimana yang kita saksikan dan dirasakan perih oleh para korban. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

    Pergerakan air di bawah tanah
    Dalam rangka memberikan pemahaman tentang perjalanan air hujan kepada masyarakat luas, tulisan ini sengaja dibuat dengan dilengkapi ilustrasi gambar-gambar yang semoga dapat mempermudah pemahaman para pembaca. Sebuah gambar diyakini mampu mewakili ribuan kata-kata.
    Mari kita mulai dari gambar yang satu ini. Gambar ini memperlihat sebidang tanah alami yang permukaannya ditumbuhi rerumputan dan sebatang pohon besar.


    Ketika turun hujan, air hujan mulai membasahi permukaan tanah,

    Tanah yang alami dengan tetumbuhan di atasnya menyediakan pori-pori, rongga-rongga dan celah tanah bagi air hujan sehingga air hujan bisa leluasa merembes atau meresap ke dalam tanah. Air itu akan turun hingga kedalaman beberapa puluh meter.

    Air yang berhasil meresap ke bawah tanah akan terus bergerak ke bawah sampai dia mencapai lapisan tanah atau batuan yang jarak antar butirannya sangat-sangat sempit yang tidak memungkinkan bagi air untuk melewatinya. Ini adalah lapisan yang bersifat impermeabel. Lapisan seperti ini disebut lapisan aquitard (gambar sebelah kanan bersifat impermeabel yang sulit diisi air, sementara yang kiri bersifat permeabel yang berisi air).

    Karena air tak bisa lagi turun ke bawah, maka air tadi hanya bisa mengisi ruang di antara butiran batuan di atas lapisan aquitard.

    Air yang datang kemudian akan menambah volume air yang mengisi rongga-rongga antar butiran dan akan tersimpan disana. Penambahan volume air akan berhenti seiring dengan berhentinya hujan.

    Air yang tersimpan di bawah tanah itu disebut air tanah. Sementara air yang tidak bisa diserap dan berada di permukaan tanah disebut air permukaan. Dalam suatu laporan disebutkan bahwa dalam kondisi pasca hujan, wilayah bogor mampu menyerap air hujan hingga 60% dari total curah hujan. Sementara wilayah Jakarta hanya mampu menyerap 20% saja. Lalu kemana sisanya? Tentunya jadi air permukaan yang menjelma menjadi banjir.
    Kembali lagi ke ilustrasi gambar, permukaan air tanah disebut water table, sementara lapisan tanah yang terisi air tanah disebut zona saturasi air.

    Permukaan zona saturasi — yang tak lain adalah water table tersebut — selalu mengikuti bentuk topografi atau lekuk-lekuk permukaan bumi.

    Ada hal kecil yang mungkin anda belum menyadarinya selama ini. Kita sejak kecil diajarkan bahwa sumber air sungai berasal dari mata air yang terdapat di pegunungan atau dataran tinggi. Coba amati sekali lagi gambar di atas. Bukankah anda lihat di gambar itu kalau permukaan air sungai bersesuaian dengan permukaan water table? dan bukankah water table itu terkoneksi dalam satu sistem dengan water table pada dataran di kiri dan kanan sungai? Jawabannya adalah Ya. Lalu apa artinya? Itu berarti air sungai tidak hanya berasal dari mata air pegunungan, melainkan ia juga disuplai dari water table pada dataran tinggi akibat tekanan hidrostatik. Yaitu suatu tekanan yang muncul akibat perbedaan ketinggian permukaan water table di sungai dan di daratan.

    Posisi permukaan water table di tiap musim
    Pada musim kemarau, permukaan water table akan turun hingga beberapa meter, mengakibatkan sumur-sumur penduduk menjadi kering dan sungai-sungai menjadi dangkal dan akhirnya kering. Sungai yang kering tidak lain sebagai akibat dari permukaan water table yang tidak lagi mencapai badan sungai. Melainkan sudah berada di bawah badan sungai.

    Sementara itu, pada musim penghujan, permukaan water table meninggi, mengisi sumur-sumur penduduk dan bahkan bisa meluapkan sungai-sungai.

    Logika yang kita dapat
    Seandainya di permukaan tanah masih banyak lahan terbuka yang ditumbuhi tanaman, maka air hujan akan sangat mudah meresap ke bawah tanah dan meninggikan water table. Kalau boleh disebut tangki air, maka berdasarkan model di atas yang bertindak sebagai tangki air adalah kawasan dataran tinggi di kiri-kanan aliran sungai. Kawasan inilah yang sangat potensial meresapkan air. Sementara sungai-sungai berperan sebagai jalan tol yang mempercepat perjalanan air menuju dataran rendah. Hampir tak ada peresapan air di sepanjang aliran sungai. Jadi air hujan akan cepat meresap ke dalam tanah jika dan hanya jika ia jatuh di kawasan terbuka hijau.
    Akan tetapi apabila permukaan tanah telah penuh sesak dengan bangunan bikinan manusia termasuk sarana jalan raya, maka porsi curah air hujan akan lebih banyak menjadi air permukaan yang akan segera menuju jalan tol (baca=sungai) lalu bergerak ke tempat yang lebih rendah dalam jumlah yang teramat besar.

    Penutup: apakah sungai dan danau/situ dapat meresapkan air?
    Kalau kita perhatikan dengan teliti, permukaan water table di aliran sungai selalu lebih rendah dibandingkan dengan permukaan water table di kiri-kanan sungai. Hal yang sama terjadi pula di lingkungan danau, telaga maupun situ-situ. Alih-alih untuk meresapkan air ke bawah tanah, justru pada kenyataannya, sering dijumpai pada lingkungan danau atau telaga atau situ sumber-sumber mata air yang menandakan air keluar dari bawah tanah akibat tekanan hidrostatik. Secara hidrologi, rasanya sulit sekali untuk membuktikan adanya daerah resapan air di sungai dan danau/situ.
    Jadi kalau ada anggapan, sebagaimana tertulis dalam harian Republika, bahwa dengan proyek sebesar Rp 17.8 milyar akan mampu mengubah fungsi danau atau situ yang semula sebagai daerah mata air atau sumber air atau hanya tampungan air, dan ingin direhabilitasi sehingga mampu meresapkan air, saya kira anggapan semacam ini bertentangan dengan tanda-tanda alam sebagaimana uraian di atas. Walaupun tidak menutup adanya kemungkinan yang teramat sangat kecil terjadinya resapan air di lingkungan danau/situ. Tapi justru pertanyaannya, kenapa demi kemungkinan yang sangat kecil itu dana Rp 17.8 milyar bisa mudah mengucur? Ada apa dibalik ini semua?
    Referensi:
    1. GEODe II, Geologic Explorations on Disk, Produced by Tasa Graphics Art Inc, Prentice Hall
    2. http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Jakarta_2007
    3. http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=123927
    4. http://www.monitordepok.com/news/berita-utama/12048.html

    Cerita Tentang Einstein



    Seorang profesor filsafat ateis berbicara di kelas mengangkat masalah ilmu pengetahuan terkait dengan ketuhanan. Dia bertanya kepada salah seorang mahasiswa baru (tebak siapa siswa ini??) dan ...


    Prof: Jadi Anda percaya pada Tuhan?
    Student: pasti, pak.

    Prof: Apakah Tuhan baik?
    Siswa: Tentu.

    Prof: Apakah Tuhan mahakuasa?
    Siswa: Ya.

    Prof: Saudaraku meninggal karena kanker meskipun dia
    berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan dia.
    Kebanyakan dari kita akan berusaha untuk membantu orang lain yang
    sakit. Tetapi Tuhan tidak.
    Kemudian Bagaimana Tuhan ini baik?

    (Mahasiswa diam.)

    Prof: Anda tidak dapat menjawab? Mari kita mulai
    lagi, anak muda. Apakah Tuhan baik?
    Siswa: Ya.

    Prof: Apakah setan / Iblis baik?
    Siswa: tidak

    Prof: darimana setan berasal?
    Siswa: Dari ... Tuhan ...

    Prof: Itu benar. Katakan padaku nak, apakah ada kejahatan
    di dunia ini?
    Siswa: Ya.

    Prof: Kejahatan di mana-mana, bukan? Dan tuhan tidak
    membuat semuanya.
    Benar?
    Siswa: Ya.

    Prof: Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?
    (Siswa tidak menjawab.)

    Prof: Apakah ada penyakit? Amoral? Kebencian
    Keburukan? Semua hal-hal yang mengerikan ada di dunia, bukan?
    Siswa: Ya, Pak.

    Prof: Jadi, siapa yang menciptakan mereka?
    (Pelajar tidak memiliki jawaban.)

    Prof: sains menyatakan Anda memiliki 5 indra Anda gunakan untuk mengidentifikasi dan mengamati dunia di sekitar Anda.
    Katakan padaku, Nak ... Apakah Anda pernah melihat tuhan?
    Siswa: Tidak,pak.

    Prof: Katakan pada kami jika Anda pernah mendengar Tuhan?
    Siswa: Tidak,pak.

    Prof: Apakah Anda pernah merasakan adanya Tuhan-mu, mencium Tuhan-mu?
    Apakah Anda pernah memiliki persepsi indrawi bagi Dzat tuhan?
    Siswa: Tidak, pak. Sayangnya tidak.

    Prof: Hingga kini kau masih percaya kepada-Nya?
    Siswa: Ya.

    Prof: Menurut empiris, dapat diuji,
    dibuktikan protokol, ilmu pengetahuan mengatakan tuhan Anda tidak ada. Apa yang anda katakan tentang itu, Nak?
    Siswa: Tidak ada. Saya hanya memiliki iman saya.

    Prof: Ya. Keyakinan. Dan itu adalah masalah ilmu pengetahuan.
    Siswa: Professor, apakah ada yang namanya panas?

    Prof: Ya.
    Siswa: Dan apakah ada yang namanya dingin?

    Prof: Ya.
    Siswa: Tidak, pak. Tidak.

    (suasana kelas menjadi sangat tenang dengan
    pergantian peristiwa ini.)

    Siswa: Pak, Anda dapat memiliki banyak panas, bahkan lebih panas, memanasi secara berlebihan,
    mega panas, sedikit panas atau tidak panas. Tapi kita tidak mempunyai apa yang disebut dingin. Kita dapat mencapai 458 derajat di bawah nol yang tidak panas, tetapi kita tidak bisa melangkah lebih jauh setelah itu. Tidak ada yang namanya dingin. Dingin hanyalah kata yang kita gunakan untuk menggambarkan ketiadaan panas. Kita tidak bisa mengukur dingin. Panas adalah energi. Dingin bukanlah kebalikan dari panas, pak, hanya ketiadaan itu.


    Siswa: Bagaimana dengan kegelapan, Profesor? Apakah ada sesuatu seperti kegelapan?
    Prof: Ya. Apakah "malam" itu, jika tidak ada kegelapan?

    Siswa: Anda salah lagi, pak. Kegelapan adalah ketiadaan sesuatu.
    Anda dapat memiliki cahaya redup, cahaya normal, cahaya terang, cahaya berkedip .... Tetapi jika Anda
    tidak mempunyai cahaya secara konstan, Anda memiliki ketiadaan dan itu disebut kegelapan, bukan
    begitu? Pada kenyataannya, kegelapan tidak ada. Jika demikian, Anda akan dapat membuat
    kegelapan lebih gelap, bukan?

    Prof: Jadi apa apa yang kau maksud, anak muda?

    Student: pak, maksud saya adalah premis filosofis anda
    yang cacat.
    Prof: cacat? Bisakah Anda menjelaskan kenapa demikian?

    Siswa: Pak, Anda bekerja pada premis
    Dualitas. Anda berpendapat ada kehidupan dan kemudian ada kematian, Tuhan yang baik dan
    Tuhan yang buruk. Anda melihat konsep Tuhan sebagai sesuatu yang terbatas,
    sesuatu yang dapat kita ukur.
    Pak, sains bahkan tidak bisa menjelaskan pikiran. Menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah melihat, apalagi dipahami salah satu sepenuhnya. Untuk melihat kematian sebagai lawan dari kehidupan adalah mengabaikan fakta bahwa kematian tidak dapat eksis sebagai hal yang substantif. Kematian bukanlah lawan kehidupan: hanya ketiadaan dari kehidupan.

    Sekarang katakan padaku, Profesor. Apakah Anda mengajarkan siswa Anda bahwa mereka berevolusi dari monyet?

    Prof: Jika anda mengacu pada proses evolusi alami,
    ya, tentu saja, saya lakukan.

    Siswa: Apakah Anda pernah mengamati evolusi dengan
    mata Anda sendiri, pak?
    (Profesor menggelengkan kepalanya dengan tersenyum,
    mulai menyadari kemana maksud dari argumen tersebut.)

    Siswa: Karena tidak ada seorang pun pernah mengamati proses evolusi bekerja dan bahkan tidak dapat membuktikan bahwa proses ini merupakan sebuah upaya yang terus berlangsung, apakah kau tidak mengajarkan pendapat Anda, pak? Apakah Anda bukan seorang ilmuwan melainkan pengkhotbah?

    (Kelas menjadi gempar.)

    Siswa: Apakah ada seseorang di kelas yang telah
    pernah melihat otak Profesor?

    (Kelas pecah menjadi tawa.)

    Siswa: Apakah ada seseorang di sini yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau mencium baunya? Tak seorang pun tampaknya telah melakukannya. Jadi, menurut aturan yang telah ditetapkan empiris, stabil, dibuktikan protokol,
    ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Anda tidak punya otak, pak. Dengan segala hormat, pak, bagaimana kita
    kemudian kami mempercayai kuliah Anda, pak?

    (Ruangan itu sunyi. Sang profesor menatap
    mahasiswa, wajahnya sulit dipahami.)

    Prof: Kurasa kau harus membawa mereka pada iman, Nak.

    Siswa: Itulah, pak. Link antara manusia
    & Tuhan adalah KEYAKINAN.
    itu lah yang membuat semuanya bergerak & hidup.

    Apakah Anda tahu siapa mahasiswa???

    Pria muda ALBERT EINSTEIN

    Taken from:
    http://www.facebook.com/friends/?filter=afp&ref=tn#/topic.php?uid=12534674842&topic=8508
    (Terjemahan)

    Rabu, 29 April 2009

    Memperbesar Payudara

    Ringtone Untuk Memperbesar Payudara !

    Guru Spiritual Jepang Ciptakan Ringtone Untuk Memperbesar Payudara

    Metode membesarkan payudara menggunakan silikon atau operasi plastik pasti sudah sering Anda dengar. Tapi kalau metode pembesaran payudara menggunakan bantuan ringtone ponsel, pasti Anda belum pernah mendengarnya, dan berita ini bukan Hoax.

    Rockmelon, demikian nama ringtone yang dapat membesarkan payudara tersebut, diciptakan oleh seorang guru spiritual di Jepang bernama Hideto Tomabechi. Kabarnya, setelah seminggu diluncurkan melalui internet ringtonedownload oleh para perempuan. ini telah 10,000 kali di

    Hideto menjelaskan bahwa ringtone yang ia patenkan atas namanya ini dapat membuat otot-otot sekitar payudara bergerak tanpa disadari. "Ini semacam gerakan olahraga biasa. Namun gerakkannya lebih lembut bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang," ujar Hideto.

    Salah satu pelanggan yang menyatakan kepuasannya pada reuters.com mengatakan bahwa, "Tadinya saya pikir bahwa ini tidak mungkin. Tiga hari tidak membuahkan hasil, saya pikir ini penipuan. Tapi setelah saya coba untuk mendegarkannya selama seminggu, sungguh luar biasa. Payudara saya yang semula berukuran 34 inci tumbuh menjadi 35 inci. Ini sangat mengagumkan."
    Setelah melihat ciptaannya menuai sukses, Hideto Tomabechi berencana akan menciptakan ringtone baru yang dapat membantu orang-orang berhenti merokok, melawan kebotakan dan menarik lawan jenis. (conectique/ligaponsel)

    Kl ga percaya d coba aja, Kl ga cari refernya d Om Google yang baik.

    Link Download :
    http://www.ziddu.com/download/4486784/rockmelon.mp3.html

    Video:
    http://www.youtube.com/watch?v=zhF_ZWwapCk

    Senin, 28 April 2008

    Cermin Diri

    Cermin Diri

    Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw bersabda,” Muslim yang satu dalah cermin bagi muslim yang lainnya “. Ada apa dengan cermin ? Apa yang dimaksud oleh Nabi dalam hadisnya ini ?
    Cermin adalah tempat berkaca, melihat sosok diri sendiri dari pantulan bayangan yang ada di cermin. Pada cermin kita bias melihat sosok diri kita yang sebenarnya tanpa dikurangi atau ditambahi. Kita tidak dapat mengingkari apa yang ditampilkan cermin tentang kita. Ia berkata jujur tentang kita. Begitu pula sebaliknya jika cermin itu berdebu atau kotor kita pasti bersedia untuk membersihkannya sehingga kita dan cermin sama-sama tampil bersih dan enak dipandang.
    Hendaknya setiap Muslim berlaku seperti cermin yaitu bersikap jujur terhadap saudaranya sesama muslim. Ia akan mengatakan salah jika memang melakukan kesalahan. Dan ia akan mengoreksinyadengan memberi nasehat-nasehat yang membangun serta mengajaknya kembali ke jalan yang benar. Adapun bila saudarnya melakukan kebenaran ia akn mendukungnya. Begitu pula sebaliknya, jika ada saudaranya memberikan nasehat kebajikan kepadanya, ia mau menerimanya dengan senang hati. Dengan demikiam hidup akan menjadi indah, penuh dengan harmoni, dan pengertian.
    Dari cermin pula, kita bias memperbaiki penampilan kita yang kurang. Adapun jika ada kelebihan atau sesuai dengan harapan kita dalam penampilan, kita bersyukur karenanya. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, hendaklah setiap muslim mengaca diri dengan mengambil pelajaran dari saudaranya sesama muslim.
    Adapun jika ia dalam posisi yang berbuat maksiat, hendaklah ia berkaca pada orang-orang yang saleh dan melhat sisi kebaikan yang ada pada diri mereka, sehingga dengan begitu ia termotivasi untuk bertaubat dan melakukan kebaikan. Jika ia melihat saudaranya mempunyai kelebihan dalam hal ilmu atau kesalehan, hendaklah ia termotivasi untuk meneladaninya atau bahkan melebihinya karena berlomba-lomba dalam kebaikan adalah dianjurkan.
    Suatu ketika Nabi bersabda, “ Nanti akan datang seorang calon penduduk surga. “ Kemudian datanglah seorang laki-laki yang penampilanyabiasa-biasa saja. Lalu ada seorang sahabat yang memberanikan diri untuk meminta izin menginap di rumah laki-laki tersebut.
    Malam demi malam sahabat ini memperhatikan, ternyata tidak ada amal istimewa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Kemudian pada hari ketiga, sahabat ini bertanya pada laki-laki itu, apa yang membuatnya dinilai sebagai calon penduduk surga oleh Nabi. Setelah berpikir keras, laki-laki itu kemudian menjelaskan bahwa setiap sebelum tidur ia selalu memaafkan kesalahan saudara-saudaranya sesama muslim. Apa yang dapat kita petik dari kisah tersebut? Ternyata, para sahabat selalu mengaca diri pada sahabat-sahabatnya sesama muslim. Jika ad kelebihan mereka meneladaninya. Jika ada kekurangan, mereka beristighfar semoga tidak terjerumus ke dalam hal yang sama dan berusaha menasehati saudaranya itu. Wallahu a’lam bish shawab

    Tausiyah Hari Ini

    Berhentilah di Stasiun Terakhir

    Ikhwah Fillah pernahkah antum melakukan perjalanan dengan kereta api? Tentunya pernahkan. Bayangkanlah kita mengadakan perjalanan dari Bogor ke Kota pada hari senin pagi jam kerja. Pada awal perjalanan kondisi kereta yang kita naiki masih terasa nyaman, kaki masih bisa berselonjor dan masih bisa merasakan udara pagi yang segar.
    Kereta berjalan seperti biasanya. Dan keretapun berhenti di setiap stasiun untuk menjemput orang orang. Dan seketika itu, kenyamanan kita mulai terganggu. Semakin lama semakin sesak dan kita pun mulai tidak tahan. Ada kesempatan bagi kita untuk turun di stasiun-stasiun yang dilalui oleh sang kereta untuk menghilangkan segala kepenatan kita. Namun perlu kita sadari bahwa belum tentu kereta yang selanjutnya lebih nyaman. Dan belum tentu ada juga kendaraan lain yang dapat menghantarkan kita menuju tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu kita harus bertahan ditengah ketidaknyamanan perjalanan kita hingga kita sampai pada stasiun tujuan kita.
    Ikhwah fillah sekelumit cerita di atas dapat kita analogikan dengan perjalanan tarbiyah kita. Ketika kita mengikutinya di masa awal-awal kita merasa enjoy dan menyenangkan. Kita merasakan sesuatu yang baru dan kita merasa berbeda dengan orang di luar
    Namun seiring dengan perjalanan tarbiyah dan da’wah ini kita mulai merasakan hambatan dan rintangan yang itu merupakan karakteristik dari da’wah itu sendiri. Berbagai cobaan mulai dari lingkungan keluarga, pergaulan, masyarakat dan lainnya datang silih berganti menerpa diri kita. Sampai terkadang cobaan itu menurunkan semangat, komitmen, bahkan akhlak kita. Bahkan terkadang membuat kita ingin berhenti dari tarbiyah ini agar kita bebas dari segala himpitan beban ini.
    Tapi ikhwah fillah sadarilah bahwa bila kita keluar dari tarbiyah ini maka siapa lagi yang akan menasehati kita ketika kita salah, siapa lagi yang akan meluruskan kita agar kita tetap berada pada rel yang telah kita azzamkan dahulu. Ikhwah hafizhokumullah memang berat ujian da’wah ini, tidak semua orang mampu bertahan di jalan ini. Namun sadarilah bahwa Allah itu Maha Penyayang. Dia tidak akan menyia-nyiakan usaha yang telah dilakukan oleh hamba-hambaNya. Oleh karena itu kita dituntut untuk senantiasa memurnikan niat kita dan senantiasa memperbaharui komitmen kita untuk terus tarbiyah hingga akhir hayat seperti yang di contohkan oleh Rasulullah, para sahabat dan mujahid da’wah.

    Motivasi Hari ini.. (Kisah Nyata)

    Kisah Nyata
    That's So Amazing
    Cerita ttg Tukang Ledeng
    Suatu hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air dirumahnya.
    Kran itu selalu bocor hingga dia kawatir anaknya terpeleset jatuh .Atas rekomendasi seorang temannya , Mr. Benzmenelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya .Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari kemudiankarena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk . Si tukang ledeng samasekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bospemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman .
    Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz , pak tukang ledeng menghubungimr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karenasudah bersedia menunggu satu hari lagi . Bos Mercy ini pun kagum ataspelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng .
    Pada hari yang telah disepakati , si tukang ledeng datang ke rumahMr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor . Setelahkutak sana kutak sini , kranpun selesai diperbaiki dan pak tukangledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya .
    Sekitar 2 minggu setelah hari itu , si tukang ledeng menghubungiMr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaikisudah benar-benar beres atau masih timbul masalah ? Mr. Benz berpikirpasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng .Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benarberes dan mengucapkan terima kasih atas pelayananpak tukang ledeng ..
    Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukangledeng untuk bekerja di perusahaannya ?
    Ya , namanya Christopher L.Jr . Posisi beliau saat ini adalah :General manager Customer Satisfaction and Public Relationdi Mercedez Benz !
    Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari :
    • Masukkan hanya informasi dan nasehat bergizi untuk otak kita .Jangan pernah memberinya sampah .
    • Jangan sampai rasa takut mengalahkan kita . Hadapi dia face to face !
    • Tersenyumlah dengan tulus hingga gigi kita terlihat dan Jadilahorang yang menyenangkan .
    • Selalu tambahkan keju dan pelayanan terbaik walaupun itu tidak diminta.

    Motivasi Kita

    Berikut ini adalah kisah tokoh inspiratif Motivasi Sukses kali ini
    "Thomas Alva Edison"
    11 Februari 1847 - 18 Oktober 1931Karena dianggap bodoh pada masa kecilnya, maka sejak usia 7 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk belajar sendiri di rumah, dan pada usia 12ia mulai berjualan koran dan buah-buahan di kereta api,sambil terus belajar secara mandiri melalui bahan bacaanbuku dan percobaan-percobaan kecil di rumahnya.
    Semenjak ia menjadi operator telegraf konvensional, padatahun pertama ia bekerja, Edison sempat berkali-kali dipecat dari pekerjaannya karena kurangnya fokus pada tugas operasionalnya, karena ia sibuk membaca dan bereksperimen dengan peralatan yang menjadi tugasnyatersebut, dan hingga pada tahun 1870 Edison berhasil menemukan telegraf dengan fungsi yang terbilang sempurna pada masanya itu. Pada tahun 1874, ia berhasil mendirikanbengkel science untuk percobaan dan penelitiannya sendiridan tahun 1877 ia menemukan gramofon.
    Pada tahun 1879, setelah belasan ribu eksperimen yang'gagal', ia menemukan sebuah cara yang berhasil untukmenyalakan lampu pijar yang berfungsi dengan sempurna,pesan yang selalu mengiringi keberhasilan ini adalah bahwaia tidak melakukan ribuan eksperimen yang gagal, melainkanmelakukan ribuan eksperimen yang mengantarkannya padacukup 1 sukses besar, yang akan merubah dirinya dankehidupan orang banyak sepanjang masa...
    Edison memegang ribuan hak paten atas berbagai penemuanyang merubah dunia hingga hari ini, semuanya didasarkanpada ketekunan, kesabaran, keteguhan dan komitmentnya atas apa yang dipercayanya akan dapat diraih.
    Berikut adalah Quotes Thomas Alva Edison yang terkenal:
    "Jenius adalah 1 persen inspirasi dan 99% keringat"
    Sumber: http://www.motivasi-sukses.com
     

    About

    Site Info

    Powered By Blogger

    ShutDown Copyright © 2009 Community is Designed by Bie